Era Revolusi Industri 4.0, Menristekdikti Dorong Mahasiswa Jadi Pengusaha

Singaraja- Memasuki era revolusi industri 4.0, mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi harus mempersiapkan diri menghadapi daya saing. Pola pikir diharapkan tidak lagi terpaku menjadi seorang pekerja. Namun mampu menjadi wirausaha. Hal demikian Hal demikian disampaikan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D.,Ak saat mengisi kuliah umum di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Selasa (20/8/2019). “Kebijakan Kemenristekdikti, mendorong mahasiswa menjadi pengusaha,” katanya dihadapan ribuan mahasiswa.

Saat ini, sudah cukup banyak ada wirausaha muda di Indonesia. Aset perusahannya mencapai triliunan rupiah yang bergerak dalam berbagai bidang. Hal demikian diharapkan bisa diikuti mahasiswa lain, khusunya Undiksha. “Dengan semakin banyak pengusaha sukses, berkontribusi pada pembangunan daya saing bangsa,” ucapnya. Usaha yang diciptakan diharapkan bisa berbasis teknologi untuk meningkatkan daya saing di era revolusi industri 4.0. Hal itu perlu didukung dengan cara berpikir kreatif dan inovatif, komunikasi dan kolaborasi dengan baik maupun literasi informasi atau data, termasuk literasi teknologi. Mahasiswa diminta tidak hanya fokus mempelajari satu disiplin ilmu. “Kedepan bisa saja hasil kuliah bukan jadi ukuran untuk mendapatkan pekerjaan. Tetapi keterampilan apa yang dimiliki,” sebutnya.

Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Nyoman Jampel, M.Pd juga menilai di era revolusi industri 4.0, lulusan perguruan tinggi dihadapkan sebuah tantangan, termasuk daya saing yang semakin ketat. Hal tersebut juga diimbangi dengan perubahan situasi dan kondisi yang cepat dan sulit diprediksi. Oleh sebab itu, mahasiswa telah diminta untuk mempersiapkan sejak dini dengan meningkatkan kualitas diri dan mengedepankan sikap critical, creative, colaborative dan communicative. “Ini yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Harus menjadi generasi yang mencirikan era revolusi industri 4.0,” ucapnya.

Penguasaan bahasa asing, minimal bahasa Inggris dan teknologi informasi juga dibebankan pada mahasiswa. Menurut Rektor Jampel, itu untuk meningkatkan daya saing. Tidak hanya di dalam negeri, namun juga ke tingkat internasional.  Mendukung hal tersebut, universitas dengan akreditasi A ini sudah memiliki program International Center of English Excellence. “Di kurikulum 2019, pembelajaran bahasa Inggris juga diberikan lebih banyak dari sebelumnya. Untuk pembelajaran IT, mahasiswa juga diberikan ruang. Undiksha tidak hanya mendorong saja. Tetapi memberikan fasilitas,” katanya. (hms)

Informasi Publik
Indonesia