Math Cup 2009 : Panitia Tidak Bisa Membuat Piala
Matematika Cup 2009 memang berbeda dari tahun sebelumnya. Bisa ditilik kembali beberapa tahun terakhir ini. Dua tahun lalu, ketika Matematika Cup 2007, itu sistemnya masih menggunakan Piala Tetap. Lalu, tahun lalu saat Matematika Cup 2008, sistemnya berubah menjadi Sistem Piala Bergilir, yang pada saat itu yang ada hanyalah voli putra. Kemudian terobosan baru dibuat oleh panitia dengan menghadirkan voli putrid dan sistemnya masih system piala bergilir namun piala bergilir ini merupakan hasil akumulasi antara point tim voli putra dan point tim voli putri. Sistem yang baru ini mendapat beberapa tanggapan negative dan positif dari beberapa pihak HMJ di lingkungan FMIPA. Cukup menimbulkan pro dan kontra yang perlu dijadikan refleksi kembali. Pihak yang kontra terhadap konsep piala bergilir ini, Putra Wiratha, mengatakan Perubahan suatu sistem tu semestinya memperhatikan piala yg diperebutkan, apakah sudah menetap atau belum. Kalau piala tahun lalu sudah menjadi piala tetap (dulunya piala bergilir), baru bisa dibuatkan piala baru dengan sistem baru juga. Kalau memang sistemnya tahun sekarang langsung diganti, semestinya dipisahkan dulu antara voli putra dgn putri, sehingga piala bergilir tahun lalu telah menjadi piala tetap. Tanggapan dari Putra Wiratha juga diperkuat oleh tanggapan sosok pemain handal dari HMJ Pendidikan Fisika. Arik Merthayasa berkomentar secara terang-terangan terhadap perubahan system piala bergilir Matematika Cup 2009. “Menurut saya panitia Matematika Cup tidak mengerti cara membuat piala bergilir, waktu tahun 2008 piala bergilir di peroleh oleh juara 1 putra, tetapi tahun 2009 cara memperoleh pialanya berubah, dimana yg memperoleh harus dengan skor tertinggi yang diperoleh dari akumulasi puin tim putra dan putri. Menurut saya seharusnya pialanya ditetapkan dulu, karena akan mengubah cara memperoleh piala tersebut. “tegas Arik Minggu 8 November 2009 lalu. “Kalau boleh saya katakan, Matrik’s terlalu berambisi mejadi juara saja, bukannya bagaimana.Tapi ingat kepuasan menjadi seorang juara itu tidak bisa diberi hanya dengan piala, toh piala juga bisa dibeli dengan uang,”ungkapnya pedas. Di sisi lain, HMJ Pendidikan Biologi tidak banyak berkomentar tentang hal ini, hanya saja dari pihak mereka sendiri menginginkan agar piala bergilirnya dibedakan saja. “Tahun lalu, Biologi juara III, tumben ini hanya karena cewek-ceweknya, dan system pointnya digabung, Biologi gagal,”tutur Surya Negara ketika ditemui di ruang HMJ Pendidikan Biologi. Secara tidak tersirat pernyataan yang diungkapkan oleh Surya Negara telah menyalahkan tim voli putri mereka. Namun, Ketua HMJ Analis Kimia menyambut perubahan system ini. “Saya rasa, system piala bergilir dengan akumulasi point putra dan putri sudah sangat bagus, untuk ke depannya tetapkan saja seperti itu agar seimbang dan tidak mendominasi ke putra saja ataupun sebaliknya,” jawabnya singkat dengan sedikit tersenyum. Agus, sebagai ketua HMJ Pendidikan Matematika juga beranggapan sama. Kenapa system perolehan piala bergilir dengan akumulasi poin putra dan putri, agar bisa optimal. Sama-sama mengoptimalkan antara pertandingan voli putra dan juga pertandingan voli putrid, agar putrinya juga tidak dipandang sebelah mata. “Kalau dibedakan, tidak akan optimal, voli putri nantinya hanya menjadi sekedar saja. Dengan adanya akumulasi point ini diharapkan masing-masing HMJ bisa lebih mengoptimalkan peningkatan potensi kedua tim, baik tim putra maupun tim putri,”ungkap Agus sembari duduk santai. Selain itu, Agus sendiri menyatakan kalau dari panitia sudah mengadakan Teknikal Meeting mengenai konsep kegiatan Matematika Cup 2009. Pada technical meeting ini telah mengundang masing-masing HMJ di lingkungan FMIPA untuk mebicarakan konsepsi Matematika Cup 2009. Seharusnya mereka semua memanfaatkan ini untuk menyampaikan tanggapan terhadap konsep dan perubahan system piala bergilir Matematika Cup. Mereka hendaknya mewakili HMJ mereka masing-masing untuk menyampaikan keluhan ataupun ketidaksetujuannya. Namun, pada saat itu justru tidak ada yang mengeluh dan menyetujui konsep kegiatan. Lalu mengapa baru usai pertandingan menyatakan kalau sistemnya tidak relevan? “ Mungkin yang bisa Agus tangkap, kurangnya sosialisasi dari wakil masing-masing HMJ yang mengikuti technical meeting pada HMJ mereka sendiri. Seandainya lebih disosialisasikan, tentu tanggapan-tanggapan atas ketidaksetujuan system seperti yang dikemukakan beberapa pihak bisa dijadikan pertimbangan HMJ Pendidikan Matematika untuk sedini mungkin membenahi hal tersebut,”kata Agus. Lalu, sekarang salah siapa???Jawabannya adalah, tidka perlu menyalahkan siapa-siapa. Yang terpenting adalah menjadikan ini sebuah pengalaman yang menjadi cermin untuk ke depannya agar bisa lebih baik. Matrik’s Jaya!!!!!!!!